Indonesia adalah negara majemuk yang terkenal memiliki banyak sekali kebudayaan dan kesenian. Uniknya, kesenian budaya Indonesia ini tak hanya menampilkan hiburan semata, namun juga membungkus beragam nilai luhur, spiritual, dan religi serta membawa nilai-nilai yang ada di masyarakat. Hal ini pula lah yang menjadikan kesenian Lengger Lanang Khas Banyumas menjadi sangat menarik.
KEISTIMEWAAN LENGGER LANANG YANG DITARIKAN OLEH LAKI-LAKI
Seperti namanya, Lengger Lanang ditarikan oleh laki-laki yang berdandan seperti wanita. Para penari menarikan gerakan tarian yang gemulai khas gerakan tarian putri tradisional jawa. Akan tetapi, pada tari Lengger Lanang ini para penari juga menarikan tarian gagah laki-laki karena jati diri penari sebenarnya adalah lelaki. Gerakan ditarikan dengan gagah dan energik dengna menggunakan ebeg atau jaran kepang. Sehingga, tidak menghilangkan jati diri penari.
Ada beberapa pendapat yang membahas latar belakang tarian ini ditarikan secara Cross-Gender oleh laki-laki. Berikut adalah alasan mengapa lengger lanang di tarikan oleh Laki-laki
1. Digunakan Untuk Ritual
Pada jaman dahulu, tarian ini digunakan sebagai sarana ritual persembahan kepda Dewi Sri atas hasil panen. Kepercayaan masyarakat pada masa itu menganggap wanita memiliki masa tidak suci atau tidak bersih. Selain itu, Sehingga, ada pendapat bahwa wanita tidak di perbolehkan menarikan tarian ini dan dipilih lah laki-laki dengan pakaian dan gerakan tarian khas perempuan.
2. Perlindungan Kepada Perempuan
Seiring berjalanya waktu, tari ini beralih peran menjadi sarana hiburan yang berkembang di masyarakat. Pada masa itu penari perempuan utamanya untuk tarian rakyat kerap mendapat perlakuan tidak senonoh. Untuk itu Lengger lanang di tarikan oleh laki-laki. Hal ini dalam beberapa sumber juga menjadi asal usul nama Lengger. Lengger berasal dari kata "Leng" yang berarti perempuan dan "Ger" yang berarti laki-laki. Arti dari Legger itu sendiri ialah dikira perempuan tapi malah ternyata laki-laki.
3. Aspek Sejarah Kolonial
Pada masa penjajahan Belanda, tarian menjadi salah satu sarana hiburan yang di gandrungi oleh masyarakat. Banyak orang yang "menanggap" penari untuk menar di acara syukuran maupun sekedar menari di halaman rumah nya saja. Pada masa itu penari menjadi mata pencaharian yang cukup menjanjikan. Meski begitu, perempuan yang menari memiliki resiko lebih besar terhadap keselamatan mereka. Sehingga, para laki-laki mendandani diri seperti perempuan dan menarikan tarian ini dari rumah ke rumah. Para penari laki-laki ini hanya akan bertindak sebagai perempuan ketika sedang pentas saja dna kembali berperan sebagai laki-laki pada aspek kehidupan yang lain
Dibalik perjalanan Lengger Lanang, masih terdapat banyak sekali pelajaran, nilai moral, etika, dan budaya yang perlu kita jaga sebagai penerus bangsa. Jadi, sudah sepantasnya kita mencintai budaya dan turut melestarikannya
Salam Budaya


Komentar
Posting Komentar